Rabu, 14 Oktober 2015

Masih segenggam Ombak

Saat menatap bahwa pantai itu indah. Aku mulai merangkai ini. Mimpi. Bahkan harapan. Berjuang (?) tak usah ditanya, pasti harus keukuh bgt. Hingga tiba satu waktu dimana pantai mu hanya segenggam ombak. Belum penuh menjadi lautan yang indah. Pasir pun masih dirangkai. Apalagi terumbu karang dan bebatuan. Semuanya masih kau angan kan. Yang ada baru segenggam ombak. Yang pernah kau perjuangan. Hingga kau berkorban. Hingga kau menganak tirikan genggamanmu yang lain. Iyaaa kan (?) Kau lupa bahwa kau tak mungkin hanya punya segenggam. Namun karna eloknya. Kau mulai melupakan genggaman yang lain. Dan kini... ayo.. liatlaah.. genggamanmu itu menghancurkan tangan mu. Genggamanmu mulai menerobos keluar. Dia tak nyaman. Dia ingin kau lepasjan. Dan dia merasa kau tak pantas menggenggamnya. Lalu apa yang akan kau lakukan? Coba tanyakan sudah sakit kah hatimu?
Kau terlalu mengemaskan genggamanmu. Ingatlah bahwa dia hanya segenggam ombak. Ketika dia hanya seombak, mampukah ia menyajikan keindahan yang kau harapkan? Harus lah kau kumpulkan genggaman ombak yang lain untuk membentuk lautan. Ingat.. kau bukan sebuah plankton yang akan puas dengan berendam dalam segenggam ombak. Masih segenggam ombak, tak ada apa-apanya. Tak ada istimewanya. Jangan pakai perasaanmu. Mulailah berfikir. Sudah sakitkah tangan mu itu? Sudah robekkah genggamanmu? Dengan segenggam kau tak akan mampu membangun istana megah. Ingatlah masih segenggam ombak, masih segenggam ombak....

Tidak ada komentar: